Blog Archive
"Jiwaku berkata padaku dan menasehatiku agar mencintai semua orang yang membenciku, dan berteman dengan mereka yang memfitnahku." - Kahlil Gibran
Diberdayakan oleh Blogger.
Minggu, 02 September 2012
Sepur Kluthuk Jaladara adalah
kereta jaman dahulu yang dijadikan wisata pada saat ini di Kota Solo
dengan berlokomotif uap. Sepur Kluthuk Jaladara
ini jalurnya dari Stasiun Purwosari sampai ke Stasiun Solo Kota, dan balik
lagi. Jalurnya, tidak melewati jalur kereta pada umumnya. Kereta ini melewati
jalur kota. Relnya berada di jalanan kota seperti trem namun terletak di pinggirnya, bukan di tengah-tengah jalan.
| Stasiun Purwosari |
Saat itu Sabtu pagi, 25 Agustus
2012, sudah siap berangkat menuju Stasiun Purwosari yang ada di sebelah
barat kota Solo dengan menggunakan Bus Batik Solo Trans. Saat itu saya dari
daerah Jebres. Sesampainya di Stasiun Purwosari, sekitar jam 9
kurang, kami bingung masuk ke area peron karena di pintu masuknya terjadi penumpukan
masa. Mereka adalah penumpang KA Prameks yang belum diizinkan masuk ke dalam
area peron. Terpaksa kami menunggu dahulu. Setelah mereka diizinkan masuk, kami
pun ikut masuk dan mencari EO dari perjalanan kereta wisata Jaladara. Setelah
bertemu, kami menukar bukti transfer dengan tiket kereta apinya. Lalu kami
dikalungi sesuati seperti medali tapi saya lupa apa itu namanya. Kami pun
menunggu keretanya datang bersama penumpang Sepur Kluthuk Jaladara lainnya.
Tidak lama menunggu, kereta pun
datang. Dari jauh terlihat lokomotif tua berwarna hitam mendekat ke arah kami,
penumpang kereta wisata Jaladara. Para penumpang kereta wisata banyak yang
mencoba mengabadikan gambar kereta tersebut. Pun penumpang lainnya yang
menunggu kedatangan kereta lain ikut mengabadikan gambar.
Satu rangkaian kereta wisata
Jaladara hanya terdapat satu lokomotif tua dan dua gerbong klasik yang berbeda
tipe. Yang pertama tipe gerbong dengan format tempat duduknya berhadap-hadapan
seperti angkutan kota. Dan di dalamnya terdapat live music tradisional Jawa. Di gerbong kedua, format tempat
duduknya seperti kereta api kelas ekonomi namun kursi terbuat dari kayu. Kedua
gerbong tersebut memiliki jendela tanpa kaca, sungguh klasik!
Kereta berhenti dihadapan kami.
Penumpang kereta wisata Jaladara segera memasuki gerbong yang tersedia. Berebut
tempat duduk, tetapi tidak semua penumpang dapat duduk karena mungkin dengan
kursi yang ada penumpang lebih bebas duduk tanpa mau berdesak-desakkan. Di balik
itu panitia mempersiapkan segalanya dengan memasang banner di samping gerbong
dan menaik-naikan keperluan lainnya ke dalam kereta.
Setelah semua sudah siap, kereta
pun melaju. Pelan. Memang begitu adanya, pelan, ke arah timur. Maksimal
kecepatan hingga 40 km/jam kalau tidak salah. Maklum keretanya tua, bahan
bakarnya pun memakai kayu jati. Klakson dari keretanya pun berbahan air,
sehingga saat ditarik klaksonnya, keluar uap air. Dan kerap kali terdapat
semburan air karena mungkin terdapat salurannya yang bocor hehehehe maklumlah
kereta tua.
![]() |
Kiri Atas : Loji Gandrung; Kiri Tengah : Reog di Gladag;
Kiri Bawah : Stasiun Solo Kota;
Kanan : Kawasan Kampung Wisata Batik Kauman
|
Kurang lebih pukul 9 lebih, hampir
setengah 10, kereta keluar Stasiun Purwosari dan tidak ke arah jalur kereta
lainnya, melainkan ke jalur yang mengarah ke tengah kota. Kereta langsung membawa
kami ke rumah dinas walikota Solo, atau biasa disebut Loji Gandrung. Namun kami
tidak diperbolehkan masuk ke rumahnya, hanya di halaman dan sampai teras
rumahnya. Setelah dari rumah dinas walikota solo, kami menuju Museum Radya Pustaka.
Di museum Radya Pustaka kami diperbolehkan masuk, karena tiket keretanya sudah
termasuk paket mengunjungi Museum Radya Pustaka. Lanjut ke Gladag. DI Gladag,
kami disuguhi pertunjukan reog. Lalu kereta mengantar kami ke Stasiun Solo
Kota, stasiun kecil di kota Solo. Di sana lokomotif langsir, dan mengisi air. Setelah
itu kembali pulang ke Purwosari. Namun sebelum ke Stasiun Purwosari, kami
berkunjung ke tempat wisata batik kauman terlebih dahulu lalu ke Stasiun
Purwosari. Sekitar pukul 12 kurang, sepur kluthuk jaladara ini sudah memasuki
Stasiun Purwosari.
Sebelum kereta berangkat dari
Stasiun Purwosari, para penumpang berebut tempat duduk. Namun setelah kereta
melaju, malah berebut ingin di pintu kereta. Saya pun hanya merasakan duduk
saat dari Stasiun Purwosari ke rumah dinas walikota Solo, selebihnya saya
memilih berdiri. Kenapa? Karena, menurut saya, bisa lebih bebas melihat sekitaran
yang berada di luar kereta dan angin yang berhembus lebih terasa. Tidak enaknya,
kita pegal karena berdiri terus. Lalu apabila tidak mendapat tempat yang teduh
akan tersengat sorotan matahari, tahulah gimana Solo…. Dan paling parahnya saat
klakson dibunyikan, tak heran jika kita terkena semburan airnya yang bocor.
Masih mending kalau airnya bersih hehehehe.
Cukup lelah juga sekitar 2 jam
berdiri. Dan harus menjaga keseimbangan juga saat berdiri di kereta :p namun
terbayar puas dengan pengalaman yang belum tentu semua orang bisa merasakan
sepur kluthuk jaladara ini. Bersyukurlah atas rezeki yang telah diterima hehehe….
Mohon maaf apabila ceritanya
membosankan. Saya bukan penulis yang pandai. Menulis seperti begini adalah
media buat saya belajar menulis itu sendiri. [IFM]
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar