Blog Archive
"Jiwaku berkata padaku dan menasehatiku agar mencintai semua orang yang membenciku, dan berteman dengan mereka yang memfitnahku." - Kahlil Gibran
Diberdayakan oleh Blogger.
Minggu, 07 Oktober 2012
Rokok? Ya rokok! Apa itu rokok?
Bagaimana kenikmatan merokok? Mengapa saya tidak diberikan kenikmatan saat saya
mencoba hisapan demi hisapan rokok? Kenapa mereka rela mengorbankan uangnya
demi rokok? Padahal saya rasa rokok itu tidak ada enaknya. Mengapa mereka bisa
menikmati rokok seperti sedang menikmati makanan mewah dengan harga mahal yang
berada di restoran-restoran? Mungkin beberapa pertanyaan itu selalu saya
tanyakan dalam benak untuk tidak mendapatkan jawaban yang sebenarnya ada
dalam benak mereka yang suka merokok.
Setiap hari dari pagi senjak saya
bangun tidur hingga malam hari sampai tertidur kembali, sudah tidak asing
buat melihat orang-orang yang merokok di sekitar saya. Tidak jarang
pula saya menghisap asap rokok yang mereka keluarkan melalui mulut atau hidung
mereka. Mungkin ini jadi kebiasaan hidup saya untuk menghirup asap rokok yang
dihembuskan oleh para perokok aktif karena saya berada dalam kepungan
lingkungan perokok aktif.
Saat saya lihat mereka menghisap
rokoknya lalu mengeluarkan asapnya melalui hidung atau mulut, mereka seperti
terhanyut dalam kenikmatannya. Apalagi rokok yang dihisapnya adalah rokok mahal
dengan merek ternama, mereka seperti memiliki sensasi tersendiri. Apakah rokok
mempengaruhi mereka untuk selalu menghisapnya?
Dulu saat masih duduk di kelas 3 SMP entah kelas 1
SMA saya pernah mencoba untuk menghisap rokok. Saya hanya penasaran karena
melihat teman-teman yang selalu merokok. Saat saya merasakan tidak ada
rasa enak saat menghisapnya. Entah mengapa saya pun bertanya-tanya. Mengapa saya tidak diberikan kenikmatan saat menghisap rokok sedangkan teman-teman saya
begitu menikmatinya dan kenikmatan itu selalu dirasakan dalam setiap
hisapannya?
Seiring berjalannya waktu, rasa kepenasaranan saya akan rokok muncul lagi namun tidak saya realisasikan. Mungkin karena saat itu saya terlalu sibuk dengan aktivitas saya dan masih ada
beberapa teman yang “menemani” untuk tidak merokok. Energi-energi
itu yang membuat saya untuk tidak kembali terjun merealisasikan rasa penasaran
yang muncul. Hingga akhirnya saya tidak pernah terpikirkan lagi rasa penasaran
itu.
Sekarang suasana sudah berbeda,
yaitu dunia perkuliahan, lebih bebas dan terbuka dibanding saat sekolah dulu. Semakin
tidak ada batasan antara perokok aktif dan pasif. Tapi saya sudah cukup
terbiasa dengan keadaan ini, yang berbeda hanya dari lingkungannya saja. Saat
kuliah saya bisa lihat setiap saat dari berbagai sudut kampus seseorang yang
merokok. Beda halnya saat sekolah, teman-teman merokok saat-saat tertentu dan masih
mengawasi lingkungan mereka, mungkin takut ketahuan oleh yang ditakutinya saat
merokok. Dalam kondisi apa pun saya tetap menghargai mereka perokok
aktif. Mungkin merokok sudah menjadi kebutuhannya.
Semakin ke sini, rasa
penasaran itu hilang dan saya memilih jalan hidup untuk tidak menjadi perokok
aktif. Untuk masalah pergaulan, saya tidak akan menjauhi mereka
perokok aktif. Bahkan sehari-hari saya bersahabat dengan mereka perokok aktif.
Tidak ada jarak antara saya sebagai perokok pasif dan mereka perokok aktif. Namun, ada
hal yang saya sayangkan dari perokok aktif, kadang mereka (maaf) suka lupa
menghembuskan asap rokoknya kemana saja. Padahal mereka tahu di sana ada yang
tidak merokok alias perokok pasif, tetapi tetap saja mereka seperti begitu. Para perokok pasif
banyak yang merasa tidak enak untuk menegur perokok aktif, karena beberapa di antara
perokok pasif berusaha menghargai mereka.
Semenjak seringnya bergaul dengan para perokok aktif,
saya merasa bersyukur tidak diberikan kenikmatan saat menghisap rokok. Apabila
saya menjadi perokok aktif, mungkin paru-paru saya akan bertambah rusak saja. Mengapa? Saat saya merokok, saya mengisap rokok yang penuh dengan zat kimia
berbahaya lalu saat menongkrong dengan teman-teman perokok
aktif juga sudah dipastikan menghirup asap rokok orang lain yang kemudian
terhisap beriringan dengan tarikan nafas. Double. Maka dari itu, saya bersyukur atas
tidak memilih jalan menjadi perokok aktif yang hanya menghisap asap rokok dari
para perokok aktif.
Sekian perjalanan hidup seorang
perokok pasif seperti saya. Di sini saya hanya menulis dengan
pandangan-pandangan ego yang saya miliki. Saya akui tulisan ini murni ego saya. Mohon maaf apabila terdapat pihak-pihak yang
merasa terpojokan dengan tulisan saya ini. Semoga para perokok aktif dan pasif
bisa saling menghargai. [IFM]
Label:
artikel,
ceuk aing,
perokok pasif,
rokok
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar